Consumer Insight dan Ethnography

Perubahan perilaku konsumen, berkembangnya teknologi, membuat strategi pemasaran baik produk dan jasa mau tak mau harus terus berubah. Riset dan survey konvensional yang dulu biasanya kita sering temui berupa lembaran kuisioner tentang sebuah produk atau layanan jasa, sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan saat-saat ini. Karena menurut Amalia E. Maulana, Ph.D, saat ini yang kita perlukan adalah riset Consumer Insight via Ethnography.

Amalia sendiri  merupakan Ethnographer, atau praktisi bidang Ethnography di Indonesia. Doktor alumni University of New South Wales, Australia tahun 2006 ini, membagi ilmu yang semula dimuat secara terpencar-pencar di beberapa majalah dan surat kabar seperti  majalah Swa,Majalah MIX, The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dll, dari kurun waktu tahun 2005 hingga 2009, dikumpulkan pada sebuah buku  barunya yang berjudul Consumer Insight via Ethnography-Mengungkap yang tidak pernah terungkap.

Apa sebenarnya Consumer Insight dan apa Ethnography itu?

Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut masih terasa asing di telinga. Tapi bagi orang-orang yang sudah berkecimpung di bidang pemasaran mungkin sudah sering mendengarnya.  “Definisi Consumer  dan Insight  kira-kira akan menjadi seperti ini: “Proses mencari tahu secara lebih mendalam dan holistic, tentang latar belakang perbuatan, pemikiran dan perilaku seorang konsumen yang berhubungan dengan produk dan komunikasi iklannya”

Lalu Ethnography sendiri adalah suatu studi atau riset tentang perilaku masyarakat atau konsumen yang dipelajari langsung dari  habitatnya atau dari lingkungan naturalnya.

Amalia sudah mengungkapkan jika sebenarnya riset ethnography sendiri sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu.  Bila menengok pada sejarah, kita bisa temui seperti  perdagangan  Jalur Sutra (The Great Silk Road) yang bisa menembus batas-batas Negara,tentu hal tersebut tidak akan lepas dari peranan riset ethnography, tapi  implementasinya mungkin lebih menitik beratkan pada pendekatan sosial budaya kala itu.  Ethnography juga telah lama dilakukan oleh produsen Intel  dan perusahaan-perusahaan besar lainnya termasuk Unilever.

Riset yang memerlukan pengamatan secara langsung di habitat konsumen tersebut, tentu memiliki kendala tersendiri yaitu dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil riset yang maksimal . Sedangkan roda operasional  perusahaan tentu juga harus terus berjalan. Saat ini dengan adanya internet dan teknologi video juga dimungkinkan melakukan riset melalui keduanya, yang disebut netnography  (seperti diskusi-diskusi di mailing list,online chatting) dan videography.  Sehingga nantinya bisa diperoleh pencapaian untuk mengkomunikasikan secara benar  tentang sebuah produk kepada konsumennya dan tentunya akan berimbas pada peningkatan penjualan.

Teknik-teknik riset Etnography bisa seperti story telling,netnography,creative focus discussion dll. Dan selain bisa diterapkan untuk produsen kepada customer, juga bisa diterapkan untuk kebutuhan Business to business (B2B).

Meskipun secara teori, riset seperti ini sepertinya ‘sangat menjanjikan’ akan tetapi  dalam dunia yang serba cepat berubah seperti ini, tentu diperlukan riset yang terus-menerus ataupun berkala untuk memantau pasar.  Reaksi pasar yang  tidak bisa diprediksi adalah tantangan terbesar bagi semua perusahaan.  Riset ethnography merupakan salah satu solusi  selain juga di internal perusahaan dibutuhkan personel yang kapabel dan memiliki rasa ‘belong to’ terhadap perusahaan tempatnya bekerja.  Terkadang sebuah perusahaan karena terlalu ‘customer oriented’ melupakan merawat apa yang di dalam. Sehingga sering kali terjadi, karyawan akhirnya loncat ke perusahaan lain bahkan competitor.  Dalam hal ini, customer oriented dengan riset etnoghaphy dan menumbuhkan rasa memiliki  karyawan pada perusahaan tentu akan berimbas pada kemajuan perusahaan itu sendiri.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan pasar yang notabene ada kita sendiri di dalamnya adalah sebuah dunia yang sarat akan peristiwa tak terduga, seperti halnya yang pernah di tulis Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan.  Akan tetapi, dengan consumer insight via ethnography ini, seolah mengajak kita untuk tetap optimis menapaki  dalam dunia yang penuh kejutan ini.  Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: