Menjadi Anggota Tim yang Positif

Mike Pegg

Kalau semua tim memiliki kemampuan sama, maka tim yang memiliki sikap paling baiklah yang akan memperoleh hasil terbaik. Sikap itu terbentuk dari orang-orang yang tergabung dalam tim tersebut. Berikut ini ada sepuluh langkah yang dapat anda lakukan untuk menjadi seorang anggota tim yang baik.

–Pastikan anda ingin bekerja dalam sebuah tim.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah anda benar-benar ingin menjadi anggota sebuah tim. Ada orang yang lebih suka bekerja bagi dirinya sendiri, ada yang lebih suka menjadi pemimpin, dan ada yang memilih bekerja dalam suatu tim. Sebelum anda dapat menjadi seorang anggota tim yang positif, yakinkan bahwa anda benar-benar ingin bekerja sebagai anggota sebuah tim.

–Pilihlah tim yang positif.
Agar anda dapat berperan secara positif, anda perlu lingkungan yang positif. Bekerjalah dalam sebuah organisasi yang Read more of this post

Advertisements

Saya Sangat Beruntung

Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup Anda. Oleh karena itu, sebaiknya Anda selalu memilih untuk melakukan yang terbaik. Ketika Anda menyadari hikmah di balik suatu kejadian, Anda akan mendapati bahwa Anda sungguh-sungguh beruntung. Penting atau tidak peristiwa yang Anda alami, yang perlu Anda pahami adalah makna di balik kejadian tersebut.

1. Bantuan dari orang tak dikenal
Banyak kisah yang muncul dari bagian ini. Ketika Anda pulang naik taksi karena jatuh sakit, namun di taksi kondisi Anda semakin parah. Untunglah, Anda menemukan supir baik hati yang lalu membawa Anda ke rumah sakit. Atau ketika Anda lupa membawa dompet saat menumpang kendaraan umum, dan seorang ibu membayarkan ongkos untuk Anda. Atau ketika si kecil terlepas di keramaian, namun Anda berhasil menemukannya dengan selamat setelah seorang anak muda mengantarnya ke bagian informasi dan mengumumkan keberadaannya. Semua hal ini membuat Anda lega, dan bersyukur karena masih ada orang yang peduli dengan orang lain di dunia ini. Read more of this post

Komunikasi Dengan Empati

Siang-siang, rapat panitia kegiatan anu berjalan gerah di ruang OSIS. Ketua panitia merasa anak buahnya tak dapat mengerti apa yang ia sampaikan, padahal papan tulis sudah penuh dengan corat-coret tulisannya. Para anak buah nggak mau kalah, mereka merasa ketua panitia-lah yang nggak menguasai permasalahan sehingga penjelasannya malah membingungkan.

Wah, kalau begini permasalahan komunikasi-lah yang terjadi. Mungkin ketua panitia memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Atau malah sebaliknya, ketika mendebat, para anak buah juga tidak bisa mengkomunikasikan protes atau usulnya dengan baik. Nah, kalo gini masalahnya, semua pihak harus menggunakan empati saat berkomunikasi. Inilah saatnya kita perlu tahu apa itu komunikasi empatik, atau komunikasi dengan empati.

Komunikasi Penting Banget!
Sebelum ngomong komunikasi plus empati, kita perlu ingat bahwa sebenarnya komunikasi itu memegang peranan yang penting. Coba saja kita ingat, hampir setiap menit kita berkomunikasi. Di rumah kita berkomunikasi dengan ortu, saudara, pembantu. Di sekolah ada komunikasi dengan teman dan guru, di organisasi juga, di masyarakat tidak beda.

Dengan berkomunikasi kita menyatakan pendapat, mengajukan permohonan, meminta pertolongan, menawarkan solusi, menyampaikan instruksi, dan memberikan informasi kepada orang lain yang kita ajak berkomunikasi.

Jelas kan, komunikasi merupakan bagian yang penting dari kehidupan kita, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial kita. Ada orang bilang bahwa dalam kehidupan sosial tidak ada apapun yang lebih penting dari pada kemampuan berkomunikasi yang efektif.

Kemampuan berkomunikasi yang baik bisa membantu menyelesaikan banyak masalah dan mendatangkan banyak untung bagi kita. Sebaliknya, kegagalan dalam berkomunikasi bisa berakibat fatal. Kegagalan ini dapat menyebabkan berbagai bencana: bertengkar sama saudara, bermasalah dengan guru, persahabatan jadi putus, nggak dapat kerja, dan sebagainya.

Tambahin dengan Empati, Biar Enak
Agar komunikasi bisa sukses, para pelaku komunikasi harus memperhatikan dan menerapkan prinsip komunikasi empatik berikut:

Informasi yang Utuh
Dalam berkomunikasi, cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Jika kita hanya memiliki sepenggal informasi, jangan langsung membentuk opini dan menyatakan pendapat berdasarkan informasi yang belum lengkap tersebut.

Intinya, Ilmu dulu baru bicara dan bertindak. Ucapan dan tindakan tanpa ilmu yang jelas akibatnya berbahaya. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah melengkapi informasi yang kita miliki dengan bertanya kepada pihak-pihak yang mengetahui tentang apa yang akan kita komunikasikan, ataupun aktif mencari informasi tambahan yang diperlukan sehingga kita info yang akan kita komunikasikan pun lebih lengkap.

Berusaha Mengerti
Simak contoh ini, seorang sarjana freshgraduate datang ke pedesaan. Karena baru saja lulus dari perguruan tinggi, ketika mengisi acara, bahasa sarjana ini “canggih” banget. Istilah-istilah berbahasa asingnya keluar begitu saja tanpa ada penjelasan maknanya. Penduduk desa manggut-manggut tidak paham. Akhirnya, penduduk desa pun malah emoh/ogah terhadap sarjana yang sebenarnya berilmu ini.

Ini termasuk kegagalan berkomunikasi. Sering banget kita menuntut untuk dimengerti, tanpa menuntut diri kita untuk mengerti dulu pihak yang kita ajak komunikasi.

Dalam berkomunikasi, ada baiknya bagi kita untuk terlebih dahulu mencoba mengerti, sebelum menuntut untuk dimengerti. Dengan mengerti permasalahan yang sebenarnya, serta mengerti siapa lawan bicara, akan lebih mudah bagi kita memahami apa yang dikomunikasikan orang tersebut, dan akan lebih mudah pula bagi kita untuk memberikan pendapat, masukan yang mudah dimengerti lawan bicara.

Dalam contoh di atas, jika sang sarjana terlebih dahulu mencoba mengerti objek audien-nya, apakah objek sudah paham dengan istilah-istilah berbahasa asing, dan sebagainya, maka tentunya dalam mengkomunikasikan ide-idenya, ia bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Diagnosa Permasalahan, sebelum Respon
Lebih spesifik lagi berkaitan dengan mengerti sebelum dimengerti adalah mendiagnosa permasalahan dengan baik sebelum memberikan respon.

Coba bayangkan, jika Anda merasa demam lalu pergi ke dokter. Anda lalu didiagnosa kena flu, padahal Anda punya gejala-gejala lain yang menandakan Anda terkena tipus. Gara-gara diagnosa yang nggak tepat, obat yang Anda minum pun nggak tepat buat penyakitmu. Akibatnya berbahaya pada dirimu.

Sebelum kita memberikan pendapat, masukan atau jawaban, diagnosis terlebih dahulu secara teliti permasalahan yang dihadapi lawan bicara. Kadang, kita terlalu terburu-buru memberikan respon. Baru mendengar permasalahan lawan bicara sedikit saja, kita sudah merasa sok tahu tentang kelanjutannya, sehingga kita sudah pasang kuda-kuda lalu segera memberi respon. Padahal, masalah tiap orang bisa spesifik banget, sehingga kita hendaknya jangan sok tahu dulu untuk memberi respon.

Baru setelah kita tahu permasalahannya dengan jelas, kita bisa lebih mudah untuk membantu memberikan jawaban, solusi, ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.

Keyakinan Diri
Jika kita tersesat dan bertanya kepada orang yang kita temui di jalan tentang alamat yang kita cari, orang tersebut memberikan informasi tetapi ia tidak terlihat yakin akan informasi yang diberikannya kepada kita. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti petunjuk yang diberikan orang tersebut?

Jika kita pergi ke toko obat, dan si penjual menawarkan obat yang kita perlukan. Tetapi ketika ditanya apakah obat tersebut manjur, si penjual tidak memberikan jawaban yang meyakinkan. Apakah kita akan membeli obat yang ditawarkan tersebut?

Jawaban dari kedua situasi di atas kemungkinan besar adalah ”tidak.” Pada dasarnya, kita cenderung lebih percaya kepada orang yang memiliki dan menunjukkan keyakinan diri tinggi. Jadi, jika kita berkomunikasi, pastikan apa yang kita komunikasikan benar-benar kita kuasai dengan baik, dan benar-benar kita yakini kebenarannya. Jika kita sudah yakin, akan lebih mudah bagi kita untuk meyakinkan orang lain.

Fokus pada Orang Lain
Unsur dalam empati adalah memperhatikan orang lain. Kalo gitu, dalam komunikasi empatik, unsur ini pun punya peranan penting. Ketika berkomunikasi, jika perhatian terfokus pada diri sendiri melulu, kegagalan komunikasilah yang akan terjadi.

Kita perlu lebih memfokuskan perhatian kita pada orang yang kita ajak berkomunikasi, bukannya pada diri sendiri melulu. Dengan memberikan fokus perhatian kepada orang lain, maka orang merasa kita memperdullikan mereka. Selanjutnya, kalau orang merasakan kita memang memberikan perhatian, kepedulian, dan rasa hormat kepada mereka ketika mereka berbicara ataupun menyampaikan pendapat, maka mereka akan juga bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan kita komunikasikan kepada mereka.

Dengan memfokuskan perhatian kepada orang lain, kita bisa lebih mudah memahami siapa lawan bicara kita (apa keinginan mereka, apa permasalahan mereka, apa yang mereka perlukan dari kita). Jika kita telah memahami mereka, tentunya kita bisa mengkomunikasikan apa yang kiranya dapat menarik perhatian mereka, dan apa yang kiranya mau mereka terima, ataupun dukung.

Kontak Mata
Kontak mata merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Dengan melibatkan kontak mata dengan orang yang kita ajak bicara, kita memberi kesan dan pesan kepada orang tersebut bahwa kita sungguh-sungguh terhadap apa yang kita komunikasikan.

Kesungguhan kita ini tentunya akan mendorong lawan bicara memperhatikan dengan seksama apapun yang kita komunikasikan. Mereka juga lebih percaya kepada kita karena kesungguhan yang kita perlihatkan, sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk memahami atau melakukan apapun yang kita anjurkan kepada mereka.

Tentu, beda masalahnya jika yang kita ajak bicara adalah lawan jenis. Kalo dengan lawan jenis, kontak mata yang terjadi bisa menimbulkan bahaya yang lain.

Senyum Hangat
Senyum merupakan sedekah yang murah, meriah, dan mudah. Senyuman memang merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk membuka komunikasi. Senyuman yang tulus dan hangat dapat mengatasi berbagai hambatan dalam komunikasi, misalnya: ketegangan, kecurigaan, kemarahan, kecemburuan.

Sebuah senyuman juga merupakan indikasi kita memiliki emosi positif terhadap orang yang kita ajak berkomunikasi. Jika lawan bicara merasa kita memang ”suka” berkomunikasi dengannya, akan lebih mudah bagi orang tersebut menerima masukan, pendapat, ataupun solusi yang kita tawarkan kepadanya.

Saling Menyukai
Komunikasi juga akan lebih efektif, jika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut saling menyukai.
Menyukai orang lain yang kita ajak berkomunikasi merupakan awal kemampuan berkomunikasi yang efektif.
Menyukai dan disukai, tidak bisa terjadi dalam sekejap. Memang harus ada saling mengenal, saling memahami, dan saling menolong. Semakin banyak interaksi dalam hal-hal yang positif ini, maka ornag yang kita ajak berkomunikasi akan semakin mudah untuk mengerti, menerima, dan mempercayai semua yang kita komunikasikan kepadanya.

Nah, jika Anda merasa mandeg dalam berkomunikasi, cobalah terapkan komunikasi empatik di atas. Latihlah dan praktekkan kiat-kiat mewarnai komunikasi dengan empati tersebut, Mudah-mudahan, komunikasi akan lebih enak dan kedua belah pihak akan merasa senang. Selamat berkomunikasi! (by primula, kaskus)

Kunjungi juga :
Blog Motivasi
Blog Kesehatan
Blog Teknologi

Empati

Siang-siang, rapat panitia kegiatan anu berjalan gerah di ruang OSIS. Ketua panitia merasa anak buahnya tak dapat mengerti apa yang ia sampaikan, padahal papan tulis sudah penuh dengan corat-coret tulisannya. Para anak buah nggak mau kalah, mereka merasa ketua panitia-lah yang nggak menguasai permasalahan sehingga penjelasannya malah membingungkan.

Wah, kalau begini permasalahan komunikasi-lah yang terjadi. Mungkin ketua panitia memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Atau malah sebaliknya, ketika mendebat, para anak buah juga tidak bisa mengkomunikasikan protes atau usulnya dengan baik. Nah, kalo gini masalahnya, semua pihak harus menggunakan empati saat berkomunikasi. Inilah saatnya kita perlu tahu apa itu komunikasi empatik, atau komunikasi dengan empati.

Komunikasi Penting Banget!
Sebelum ngomong komunikasi plus empati, kita perlu ingat bahwa sebenarnya komunikasi itu memegang peranan yang penting. Coba saja kita ingat, hampir setiap menit kita berkomunikasi. Di rumah kita berkomunikasi dengan ortu, saudara, pembantu. Di sekolah ada komunikasi dengan teman dan guru, di organisasi juga, di masyarakat tidak beda.

Dengan berkomunikasi kita menyatakan pendapat, mengajukan permohonan, meminta pertolongan, menawarkan solusi, menyampaikan instruksi, dan memberikan informasi kepada orang lain yang kita ajak berkomunikasi.

Jelas kan, komunikasi merupakan bagian yang penting dari kehidupan kita, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial kita. Ada orang bilang bahwa dalam kehidupan sosial tidak ada apapun yang lebih penting dari pada kemampuan berkomunikasi yang efektif.

Kemampuan berkomunikasi yang baik bisa membantu menyelesaikan banyak masalah dan mendatangkan banyak untung bagi kita. Sebaliknya, kegagalan dalam berkomunikasi bisa berakibat fatal. Kegagalan ini dapat menyebabkan berbagai bencana: bertengkar sama saudara, bermasalah dengan guru, persahabatan jadi putus, nggak dapat kerja, dan sebagainya.

Tambahin dengan Empati, Biar Enak
Agar komunikasi bisa sukses, para pelaku komunikasi harus memperhatikan dan menerapkan prinsip komunikasi empatik berikut:

Informasi yang Utuh
Dalam berkomunikasi, cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Jika kita hanya memiliki sepenggal informasi, jangan langsung membentuk opini dan menyatakan pendapat berdasarkan informasi yang belum lengkap tersebut.

Intinya, Ilmu dulu baru bicara dan bertindak. Ucapan dan tindakan tanpa ilmu yang jelas akibatnya berbahaya. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah melengkapi informasi yang kita miliki dengan bertanya kepada pihak-pihak yang mengetahui tentang apa yang akan kita komunikasikan, ataupun aktif mencari informasi tambahan yang diperlukan sehingga kita info yang akan kita komunikasikan pun lebih lengkap.

Berusaha Mengerti
Simak contoh ini, seorang sarjana freshgraduate datang ke pedesaan. Karena baru saja lulus dari perguruan tinggi, ketika mengisi acara, bahasa sarjana ini “canggih” banget. Istilah-istilah berbahasa asingnya keluar begitu saja tanpa ada penjelasan maknanya. Penduduk desa manggut-manggut tidak paham. Akhirnya, penduduk desa pun malah emoh/ogah terhadap sarjana yang sebenarnya berilmu ini.

Ini termasuk kegagalan berkomunikasi. Sering banget kita menuntut untuk dimengerti, tanpa menuntut diri kita untuk mengerti dulu pihak yang kita ajak komunikasi.

Dalam berkomunikasi, ada baiknya bagi kita untuk terlebih dahulu mencoba mengerti, sebelum menuntut untuk dimengerti. Dengan mengerti permasalahan yang sebenarnya, serta mengerti siapa lawan bicara, akan lebih mudah bagi kita memahami apa yang dikomunikasikan orang tersebut, dan akan lebih mudah pula bagi kita untuk memberikan pendapat, masukan yang mudah dimengerti lawan bicara.

Dalam contoh di atas, jika sang sarjana terlebih dahulu mencoba mengerti objek audien-nya, apakah objek sudah paham dengan istilah-istilah berbahasa asing, dan sebagainya, maka tentunya dalam mengkomunikasikan ide-idenya, ia bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Diagnosa Permasalahan, sebelum Respon
Lebih spesifik lagi berkaitan dengan mengerti sebelum dimengerti adalah mendiagnosa permasalahan dengan baik sebelum memberikan respon.

Coba bayangkan, jika Anda merasa demam lalu pergi ke dokter. Anda lalu didiagnosa kena flu, padahal Anda punya gejala-gejala lain yang menandakan Anda terkena tipus. Gara-gara diagnosa yang nggak tepat, obat yang Anda minum pun nggak tepat buat penyakitmu. Akibatnya berbahaya pada dirimu.

Sebelum kita memberikan pendapat, masukan atau jawaban, diagnosis terlebih dahulu secara teliti permasalahan yang dihadapi lawan bicara. Kadang, kita terlalu terburu-buru memberikan respon. Baru mendengar permasalahan lawan bicara sedikit saja, kita sudah merasa sok tahu tentang kelanjutannya, sehingga kita sudah pasang kuda-kuda lalu segera memberi respon. Padahal, masalah tiap orang bisa spesifik banget, sehingga kita hendaknya jangan sok tahu dulu untuk memberi respon.

Baru setelah kita tahu permasalahannya dengan jelas, kita bisa lebih mudah untuk membantu memberikan jawaban, solusi, ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.

Keyakinan Diri
Jika kita tersesat dan bertanya kepada orang yang kita temui di jalan tentang alamat yang kita cari, orang tersebut memberikan informasi tetapi ia tidak terlihat yakin akan informasi yang diberikannya kepada kita. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti petunjuk yang diberikan orang tersebut?

Jika kita pergi ke toko obat, dan si penjual menawarkan obat yang kita perlukan. Tetapi ketika ditanya apakah obat tersebut manjur, si penjual tidak memberikan jawaban yang meyakinkan. Apakah kita akan membeli obat yang ditawarkan tersebut?

Jawaban dari kedua situasi di atas kemungkinan besar adalah ”tidak.” Pada dasarnya, kita cenderung lebih percaya kepada orang yang memiliki dan menunjukkan keyakinan diri tinggi. Jadi, jika kita berkomunikasi, pastikan apa yang kita komunikasikan benar-benar kita kuasai dengan baik, dan benar-benar kita yakini kebenarannya. Jika kita sudah yakin, akan lebih mudah bagi kita untuk meyakinkan orang lain.

Fokus pada Orang Lain
Unsur dalam empati adalah memperhatikan orang lain. Kalo gitu, dalam komunikasi empatik, unsur ini pun punya peranan penting. Ketika berkomunikasi, jika perhatian terfokus pada diri sendiri melulu, kegagalan komunikasilah yang akan terjadi.

Kita perlu lebih memfokuskan perhatian kita pada orang yang kita ajak berkomunikasi, bukannya pada diri sendiri melulu. Dengan memberikan fokus perhatian kepada orang lain, maka orang merasa kita memperdullikan mereka. Selanjutnya, kalau orang merasakan kita memang memberikan perhatian, kepedulian, dan rasa hormat kepada mereka ketika mereka berbicara ataupun menyampaikan pendapat, maka mereka akan juga bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan kita komunikasikan kepada mereka.

Dengan memfokuskan perhatian kepada orang lain, kita bisa lebih mudah memahami siapa lawan bicara kita (apa keinginan mereka, apa permasalahan mereka, apa yang mereka perlukan dari kita). Jika kita telah memahami mereka, tentunya kita bisa mengkomunikasikan apa yang kiranya dapat menarik perhatian mereka, dan apa yang kiranya mau mereka terima, ataupun dukung.

Kontak Mata
Kontak mata merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Dengan melibatkan kontak mata dengan orang yang kita ajak bicara, kita memberi kesan dan pesan kepada orang tersebut bahwa kita sungguh-sungguh terhadap apa yang kita komunikasikan.

Kesungguhan kita ini tentunya akan mendorong lawan bicara memperhatikan dengan seksama apapun yang kita komunikasikan. Mereka juga lebih percaya kepada kita karena kesungguhan yang kita perlihatkan, sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk memahami atau melakukan apapun yang kita anjurkan kepada mereka.

Tentu, beda masalahnya jika yang kita ajak bicara adalah lawan jenis. Kalo dengan lawan jenis, kontak mata yang terjadi bisa menimbulkan bahaya yang lain.

Senyum Hangat
Senyum merupakan sedekah yang murah, meriah, dan mudah. Senyuman memang merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk membuka komunikasi. Senyuman yang tulus dan hangat dapat mengatasi berbagai hambatan dalam komunikasi, misalnya: ketegangan, kecurigaan, kemarahan, kecemburuan.

Sebuah senyuman juga merupakan indikasi kita memiliki emosi positif terhadap orang yang kita ajak berkomunikasi. Jika lawan bicara merasa kita memang ”suka” berkomunikasi dengannya, akan lebih mudah bagi orang tersebut menerima masukan, pendapat, ataupun solusi yang kita tawarkan kepadanya.

Saling Menyukai
Komunikasi juga akan lebih efektif, jika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut saling menyukai.
Menyukai orang lain yang kita ajak berkomunikasi merupakan awal kemampuan berkomunikasi yang efektif.
Menyukai dan disukai, tidak bisa terjadi dalam sekejap. Memang harus ada saling mengenal, saling memahami, dan saling menolong. Semakin banyak interaksi dalam hal-hal yang positif ini, maka ornag yang kita ajak berkomunikasi akan semakin mudah untuk mengerti, menerima, dan mempercayai semua yang kita komunikasikan kepadanya.

Nah, jika Anda merasa mandeg dalam berkomunikasi, cobalah terapkan komunikasi empatik di atas. Latihlah dan praktekkan kiat-kiat mewarnai komunikasi dengan empati tersebut, Mudah-mudahan, komunikasi akan lebih enak dan kedua belah pihak akan merasa senang. Selamat berkomunikasi! (by primula, kaskus maniac)

Kunjungi juga :
Blog Motivasi
Blog Kesehatan
Blog Teknologi

5 STRATEGI MENUJU SUKSES DAN KAYA

1.Sikap

Sikap adalah satu faktor penentu kesuksesan dalam apapun juga perkara yang anda lakukan. Einstein mengatakan bahwa sikap adalah 99% penentu kesuksesan atau kegagalan seseorang.

Anda semestinya mempunyai sikap yang positif dalam apapun juga bidang yang anda lakukan, jika anda mau memperoleh kesuksesan.

Apakah anda sedang sadar, hendak melelapkan mata, bekerja – apa pun juga yang anda lakukan, anda semestinya menanamkan sikap positif. Apabila suatu perkara tidak menjadi seperti yang anda harapkan, anda seharusnya terus bersikap positif. Jika anda bangun lewat, jangan merasa bosan, sebaliknya anda harus berfikiran positif dan berkata kepada diri anda sendiri “ ok, hari ini aku terlewat bangun, sekarang aku perlu lakukan yang terbaik untuk hari ini”.

Saya tidak percaya bahwa mereka yang sukses pada hari ini bisa mencapai tahap itu tanpa mempunyai sikap yang baik dan positif.

Sebenarnya lebih mudah untuk berfikiran negatif, dan untuk pengetahuan anda, untuk berfikiran positif memerlukan sedikit usaha. Tempelkan satu nota di atas meja anda, di dalam mobil, cermin dikamar mandi yang tertulis “SIKAP”. Apabila anda melihat nota itu, berhenti sejenak dan berfikir tentang perkara yang sudah berlaku pada hari itu, dan jika ada kalanya anda merasa tidak berfikiran positif, fikirkan semula dan teruskan kerja yang anda lakukan.

Jika anda bersikap positif, semua perkara yang anda lakukan akan menjadi lebih mudah. Jika ada perkara yang tidak suka anda lakukan, jangan biarkan sehingga pada saat akhir, bahkan lakukan dulu perkara tersebut dan fikirkan “Saya mau mengerjakan kerja ini sampai selesai kemudian saya bisa buat kerja yang saya suka !”. Cobalah tehnik ini dan anda pasti akan merasakan perbedaannya.

2. Ambil tindakan

Ini merupakan satu isu yang besar kepada kebanyakan orang, mereka mempunyai ide bisnis yang baik, mereka memberitahu kepada kawan-kawan tentang bisnis yang hendak dimulai, kawan-kawan menjadi positif dan mendukung. Kemudian mereka beritahu kepada beberapa orang lain sehinggalah menjadi senyap begitu saja.

Jika anda mempunyai ide yang bagus tidak menjadi masalah, tetapi anda perlu membuat tindakan. Kemudian apabila anda sudah mulai melakukan sesuatu, anda perlu mengambil beberapa lagi langkah seterusnya sehinggalah mencapai kesuksesan.

Jika anda mempunyai peluang atau ide pada masa ini, mungkin sesuatu yang sudah lama anda fikirkan, berhenti berbicara dan berfikir tentangnya – LAKUKAN SAJA.

Saya mempunyai banyak sahabat yang datang berjumpa dan berbicara tentang ide-ide bisnis seperti seolah-olah mereka yang menyuruh saya melakukan bisnis tersebut. Saya bisa menolong mereka, beri pendapat, tetapi yang menyedihkan ialah 90% daripada mereka tidak pernah membuat tindakan. Jika anda tidak membuat tindakan, anda membohongi hak anda untuk satu kesuksesan.

3. Tukar Bagaimana Anda Diprogramkan

Sejak dari bangku persekolahan lagi kita selalu terfikir seperti yang selalu diberitahu oleh orang-orang dewasa bahwa “ belajar yang pandai supaya dapatkan kerja yang baik”. Saya harap anda jangan salah anggap, saya fikir apabila kita disekolah kita perlu belajar apa yang perlu kemudian buka bisnis anda sendiri!

80% jutawan pada hari ini mencapai impian mereka dengan memulai bisnis sendiri. Mungkin anda sudah maklum, jika anda benar-benar mau kebebasan keuangan, masa depannya ialah dengan membuka usaha sendiri.

Sudah tentu bisnis sendiri harus menanggung resiko, dan anda bisa mengurangi resiko tersebut dengan memulainya secara sampingan, dan gunakan tehnik yang saya tunjukkan dengan modal yang kecil, tetapi imbalannya sangat banyak dan menguntungkan.

4. Tuliskan Apa Yang Anda Fikirkan

Saya tidak peduli sebaik apapun memori yang anda miliki, tetapi mengapa perlu dibiarkan saja. Mengapa perlu menanggung resiko jika terlupa sesuatu yang penting? Tuliskan perkara yang ada difikiran supaya anda menolong melegakan otak anda yang penuh dengan informasi. Apabila anda menulisnya anda tidak perlu takut jika terlupa pada waktu yang diperlukan.

Jika anda mempunyai ide – tuliskan.
Jika anda mempunyai masalah – tuliskan.

Apabila anda menulis suatu masalah, anda akan mendapati bahwa anda dapat berfikir dengan lebih jelas, dan satu waktu nanti perkara tersebut dapat diselesaikan. Tehnik ini tampak mudah, tapi jika anda mulai menggunakannya, anda pasti akan lihat perbedaannya kelak.

5. Tetapkan Tujuan Dan Impian

Jika anda tidak mempunyai sasaran, anda tidak akan dapat apa-apa. Anda harus mempunyai matlamat/tujuan, anda perlu tahu kemana destinasi anda, berusaha untuk mencapainya dan senantiasa ingat akan impian anda. Saya berjumpa dengan banyak orang yang mungkin tidak mengerti tentang konsep ini yang berkata “impian aku ialah untuk menjadi jutawan dalam waktu 5 tahun” tetapi apabila anda tanyakan bagaimana untuk mencapainya, mereka hanya diam saja.

Anda mesti mempunyai tujuan/matlamat jangka panjang, untuk tempo 5 tahun yang akan datang, kemudian anda perlu berusaha untuk mencapainya, kemudian tetapkan matlamat jangka pendek yang lebih mudah dicapai contohnya matlamat setahun, sebulan dan seminggu.

Saya harap 5 strategi diatas dapat menolong anda untuk mencapai kesuksesan dengan lebih mudah dan cepat.

Sumber: Armada Global Enterprise

RAJAWALI DAN AYAM

Alkisah, di satu perkampungan Indian hiduplah seorang pemburu. Suatu hari dia naik ke bukit cadas untuk menangkap rajawali. Sesampai di sarang rajawali, dia hanya menemukan sebutir telur. Daripada pulang sia-sia, telur rajawali itu pun dibawanya dan ditaruh bersama dengan telur-telur ayamnya yang sedang dierami.

Tak berapa lama kemudian, menetaslah telur-telur eraman sang pemburu. Karena masih kecil, tidak terlihat perbedaan yang mencolok antara anak rajawali dengan anak ayam. Si rajawali sendiri tidak pernah menyadari bahwa dia berbeda dengan yang teman-temannya. Dia hidup, makan, minum, bernafas, berjalan, dan berperilaku seperti anak ayam.

Waktu terus berjalan. Rajawali mulai merasa bahwa dirinya berbeda dengan anak-anak ayam. Sayapnya melebar, kakinya membesar, dan cengkeramannya menguat. Tetapi lingkungannya selalu mengatakan bahwa dia cuma seekor ayam.

Hingga suatu hari: terbanglah seekor rajawali dewasa melewati kampung tersebut. Dengan gagah dia mengepakkan sayapnya, melayang dengan anggun, serta mengeluarkan suara yang melengking dan berwibawa. Semua tertegun, terpana, dan mendongak sambil bertanya-tanya, makhluk apakah itu?

Tiba-tiba, terdengar teriakan panik induk ayam. “Anak-anak, lari, sembunyi! Selamatkan diri masing-masing. Itu adalah elang rajawali, musuh bangsa ayam!”

Segera semuanya mengambil langkah seribu dan bersembunyi di kolong rumah. Tetapi tidak demikian si rajawali kecil. Sedikit pun rasa takut muncul dalam dirinya. Sebaliknya dia merasakan sebuah panggilan yang kuat di dalam batinnya. Lengkingan dari langit itu seakan berkata, “Hai anak rajawali, ingatlah jati dirimu. Kamu bukan anak ayam seperti yang kamu dengar dan pikirkan selama ini. Kamu adalah rajawali. Lihat sayapmu yang lebar. Lihat kaki dan cakarmu yang besar. Aktualisasikanlah potensi dirimu yang luar biasa itu. Mari, bergabunglah bersama kami, bangsa rajawali, kita arungi angkasa luas yang tiada tara yang tiada bertepi.”

Menjawab panggilanjiwa itu, perlahan si rajawali kecil mulai berlari sambil mengepakkan sayapnya. Semakin cepat dan kencang sehingga sedikit demi sedikit tubuhnya pun terangkat. Namun karena belum terbiasa, dia pun jatuh. Tidak putus asa, dia mencoba lagi dengan lebih bersemangat. Tetapi hasilnya sama saja: baru terbang sedikit, langsung jatuh.

Sementara itu, terdengar suara hiruk pikuk dari kolong rumah. “Hei… jangan bodoh. Cepat bersembunyi di sini. Awas kau kan dipatok dan dimangsa. Ingat, kita ini bangsa ayam yang tidak mungkin bisa terbang. Hayo jangan terlambat!”

Rajawali kecil bimbang. Mau mencoba terbang lagi, dia sudah capek. Tetapi bergabung ke kolong rumah, hatinya tidak rela. Dia berada di persimpangan. Dan dia memilih bergabung dengan masyarakat ayam. Si anak rajawali kembali menjadi ayam, melupakan dan mematikan spirit yang ada di batinnya. Hingga akhir hayatnya, dia tetap merasa dan mengganggap dirinya sebagai ayam.

* * * *

Pembaca yang budiman, kisah ini adalah tentang suara langit dan suara bumi. Kedua suara ini sangat penting untuk kita tangkap dan bedakan.

Kita adalah putra langit, putra rajawali yang mampu terbang tinggi menjelajahi awan-gemawan dan mengepakkan sayap mengarungi langit dengan bebas. Jauh di dalam batin kita ada panggilan jiwa yang tidak pernah diam menantang kita untuk menjadi yang terbaik.

Pertanyaannya, apakah kita bersedia menjawab panggilan tinggi itu, yang juga adalah suara Tuhan, ataukah kita menjawab suara rendah, yang mengatakan kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa?

Kita semua dilimpahi dengan potensi luarbiasa untuk diaktualisasikan. Maukah kita berusaha mengembangkannya? Buanglah mentalitas seperti rajawali kecil di atas, yang karena lelah, pernah gagal, ragu dan bimbang, putus asa, lalu memilih mendengarkan suara bumi. Sebaliknya, pilihlah untuk bertarung sekuat tenaga sampai kita mendapati bahwa kita bukanlah pecundang, tetapi pemenang dengan prestasi luarbiasa.

Kita semua adalah rajawali, mari dengan tegas menjawab panggilan surgawi, panggilan ilahi untuk melakukan hal-hal yang besar, hebat, dan luarbiasa.

MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Seberapa besar Anda menghargai diri sendiri? Jika belum, ambillah waktu sebentar dan lakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri.

1. Sediakan waktu. Menyediakan waktu untuk diri sendiri akan membuat pikiran segar kembali. Bahkan, menyediakan lima menit hanya untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran dapat membantu Anda merasa lebih baik. Namun, akan lebih baik bila Anda bisa menyediakan waktu yang lebih banyak untuk memfokuskan pikiran pada diri sendiri dan apa yang perlu dilakukan.

2. Lakukan sesuatu yang baik untuk tubuh. Memang mudah mengabaikan kesakitan yang dirasakan tubuh dan lupa untuk mengurus diri sendiri. Cobalah berendam di air panas yang dicampur garam atau mintalah seseorang untuk memeluk. Bisa juga cobalah berdiri dan lakukan peregangan.

3. Buat diri sendiri merasa nyaman. Misalnya dengan menelepon teman atau minum teh hangat, tidur dengan bantal dan selimut yang nyaman, menulis buku harian, makan sesuatu yang disukai, mencium bau minyak aromaterapi seperti vanila, lavender, dan lain-lain.

4. Pergi ke dunia lain. Caranya adalah dengan membaca buku, menonton film, atau biarkan pikiran mengalir ke mana pun ia pergi.

5. Melakukan sesuatu yang konyol. Ini akan membawa keluar jiwa kanak-kanak yang ada dalam kepribadian kita dan memberi perasaan bahagia. Misalnya bermain busa sabun, membuat kue, mengamati awan dan mereka-reka bentuknya, serta bermain dengan hewan peliharaan atau otopet.

6. Cuti sehari. Apalagi bila Anda sudah merasa jenuh dengan pekerjaan sehari-hari. Ambil cuti sehari dan lakukan apa pun yang ingin dilakukan seharian penuh. Ini lebih baik daripada sehari di akhir pekan.

7. Jalan-jalan di tengah alam terbuka. Kadang kita lupa memperhatikan dunia yang terbentang di sekitar. Mengamati alam akan membuat kita merasa lebih enak dan kalem. Berjalanlah di taman. Amati dan pandanglah pohon, rumput, langit, kemudian bernapaslah.

8. Melakukan sesuatu yang sudah lama ingin Anda kerjakan. Mengapa menundanya lagi? Lekas kerjakan dan Anda akan merasa lebih baik

PERSAHABATAN YANG MENGGETARKAN

Alkisah, di zaman Yunani kuno memerintah seorang raja bersama Dionisius. Di kerajaannya hidup pula sepasang sahabat yang terkenal karena kesehatian, kesepikiran, dan komitmen kebersamaan mereka: Damon dan Phytias namanya.

Suatu hari, tanpa sengaja Damon melakukan sebuah kesalahan fatal di sebuah gelanggang permainan. Akibatnya, dia harus dihukum mati oleh raja. Namun, beberapa saat sebelum eksekusi, Phityas muncul.

”Yang mulia Raja Dionisius, izinkanlah hamba memohon sesuatu buat Damon, sahabatku: Berikanlah dia kesempatan terakhir melakukan sesuatu sebelum menemui ajalnya.”

Raja pun mengabulkannya. ”Baik, aku izinkan. Hai Damon, apakah permintaanmu yang terakhir?” ”Terimakasih sahabatku Phytias, dan terutama bagiku Raja Dionisius yang mulia. Permintaan hamba sederhana: boleh kembali ke kampungku, ke rumahku, untuk mencium anak-istriku dan berpamitan pada keluargaku.”

”Tetapi apa jaminannya?” tanya raja.

Phytias mengajukan diri. ”Baginda, selama Damon pergi, biarlah hamba yang menggantikannya sebagai tahanan. Apabila pada batas waktu yang ditentukan dia tidak muncul, hamba bersedia dihukum mati sebagai gantinya.”

Demikianlah Damon dilepaskan dan diberi waktu tiga hari untuk melaksanakan niatnya.

Raja dan khalayak ramai menunggu apakah Damon kembali sesuai dengan janjinya. Hari pertama lewat tanpa kabar. Hari kedua juga berlalu begitu saja.

Hari ketiga, masyarakat berbondong-bondong berkumpul di tempat eksekusi. Mereka penasaran sambil berharap cemas, apakah Damon memenuhi janjinya. Menjelang siang hari, kabar kehadiran Damon belum terdengar juga. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Dan ketegangan meliputi semua orang.

Menjelang sore, Damon tetap tidak muncul. Pada detik-detik menjelang eksekusi, raja pun berkata kepada Phytias. ”Tampaknya persahabatan kalian yang terkenal itu tidak terbukti. Dan kamu, Phytias yang malang, bersiaplah untuk mati karena sahabat yang setia yang kamu banggakan itu ternyata tidak sesetia seperti yang kamu sangka.”

Namun saat pedang algojo hampir berkelebat, dari kejauhan terdengar suara orang berteriak. “Tunggu, tahan hukuman! Tunggu, tahan hukuman!”

Sontak semua yang hadir menoleh ke arah suara itu. Pekik tidak percaya bercampur gumaman kagum memenuhi udara. ”Itu Damon, dia kembali!”

“Maafkan hamba baginda.” kata Damon begitu sampai. “Hamba mengalami banyak sekali hambatan di jalan. Waktu melintasi selat, perahu hamba membentur karang hingga tenggelam. Saat melintasi hutan, sekelompok penyamun merampok hamba hingga terluka. Namun, hamba tetap berlari ke sini, dan syukurlah belum terlambat.”

Sambil menoleh kepada sahabatnya kata Damon lagi, “ Saudaraku Phytias, terimakasih atas kebaikanmu. Engkau telah mempertaruhkan nyawamu untukku. Sekarang, aku sudah di sini, dan siap untuk dihukum mati.”

Melihat adegan itu, Raja Dionisius hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. Hatinya tersentuh dan berkata, “Damon dan Phytias, ternyata benar apa yang kudengar selama ini tentang persahabatan kalian. Aku sangat menghormatinya. Sebagai penghargaan, maka kamu, Damon, kuampuni dan kulepaskan dari hukuman mati.”

“Terimakasih Baginda,” Damon dan Phytias serentak menjawab.

“Namun ada satu hal lagi. Bolehkah ke dalam persahabatan kalian berdua ditambahkan orang ketiga?” tanya raja.

Demikianlah Raja Dionisius kemudian menjadi sahabat Damon dan Phytias. Persahabatan mereka menjadi persahabatan segitiga yang melegenda ke seantero dunia.

* * * *

Kerja adalah kehormatan, aku bekerja tekun penuh keunggulan. Dalam kisah ini, kita menemukan kualitas persahabatan, komitmen, kesetiaan, dan kepercayaan yang total sehingga mampu menggetarkan hati masyarakat dan Raja Dionisius.

Apapun yang unggul, mulia, dan berkualitas selalu mengundang rasa hormat dan kagum. Kalau kita mampu menerapkannya dalam pekerjaan, di mana kita mampu membina hubungan dengan orang lain, pemasok, atau pelanggan, maka relasi tersebut akan menjadi modal untuk maju dan berkembang.

Karena itu, jagalah kualitas persahabatan anda, karena dengan demikian, hidup akan jauh lebih mudah dan sukses sangat mungkin diraih.

BUNGA TAPAL KUDA

Konon di Jepang hiduplah seorang petani tua yang setiap hari harus menelusuri jalan setapak berkilometer ke ladangnya sambil memikul dua ember kaleng yang penuh berisi air. Karena termakan usia, lambat-laun ember itu pun aus hingga berlobang-lobang pada salah satu sisinya. Akibatnya jumlah air yang terangkut setiap hari selalu berkurang menjadi dua pertiga. Meski demikian, petani itu tidak pernah bermaksud mengganti ember kesayangannya itu.

Di sepanjang jalan setapak itu, bunga-bunga tapal kuda senantiasa tumbuh subur bermekaran. Tapi ketika musim kemarau tiba, sedikit demi sedikit bunga-bunga itu pun layu dan mati. Hanya bunga yang persis dilalui si ember bocor tetap tumbuh dengan indah, membuat si petani tetap bertekun di bawah cuaca yang kurang bersahabat.

Tapi hal itu tidak disadari oleh si ember. Ia hanya berpikir tentang dirinya yang sudah usang, tidak berguna, dan hanya bikin susah. Mulailah si ember bocor mengeluh, tidak lagi penuh minat mengerjakan tugasnya.

Petani yang menyadari sikap ember itu mulanya hanya diam saja hingga pada suatu hari tidak tahan lagi mendengar keluh kesah embernya.

“Hai emberku, mengapa kamu mengeluh terus karena bocor?”

“Ya Tuan,”jawab ember dengan lunglai. “Aku frustasi karena tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik.”

“Apa benar begitu?” tanya petani lagi. “Siapa yang setiap hari selalu menemaniku membawa air?”

“Saya Tuan,” ember bocor itu menjawab, masih dengan tanpa semangat, “tapi saya tak sanggup lagi membawa cukup air, kan Tuan?”

“Betul,”kata petani. “Terus, memang kenapa kalau bocor?” petani balik bertanya.

“Ya, saya merasa tidak berguna, cuma merepotkan tuan saja,” ungkap si ember.

“Melihat ember yang begitu kehilangan jiwa, si petani mulai memperlambat bicaranya. Dengan penuh kesabaran ia berkata, “Coba layangkan matamu ke sekeliling dan ceritakan apa yang engkau lihat?”

“Tidak ada yang istimewa Tuan, hanyalah bunga tapal kuda yang setiap hari kulihat.”

“Benar sekali,” kata sang petani. “Sekarang coba kamu melayangkan pandanganmu lebih jauh lagi. Apakah kamu juga menemukan hal yang sama?”

“Kegersangan Tuan. Hanya tanah gersang yang kulihat. Bunga-bunga mengering, debu-debu beterbangan, tidak ada kehidupan sama sekali.”

“Tepat sekali wahai emberku,”kata petani. “Apakah kamu tidak merasa aneh dengan semuanya itu? Kegersangan ada di mana-mana, namun di dekat kita justru tumbuh dengan subur bunga tapal kuda yang indah. Kamu tahu kenapa bisa begitu?”

“Tidak Tuan. Bisakah Tuan jelaskan kepadaku?”

“Ember… ember. Itu semua berkat kamu. Selama ini tidak pernah kamu sadari, bahwa kamu adalah sumber kehidupan bagi bunga tapal kuda di sekeliling kita. Memang kamu bocor, tapi justru dari sanalah mereka mendapatkan air sehingga mereka bisa bertahan hidup. Jadi janganlah pernah menganggap dirimu gagal, tetapi berbanggalah untuk itu.”

Semenjak itu si ember menemukan kembali kegembiraan dan kebahagiaan dalam melaksanakan tugasnya.

* * * * *

Kisah di atas berbicara bahwa di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun harus disadari, justru dengan kekurangan dan ketidakmampuan tersebut seringkali berfungsi sebagai rahmat bagi orang lain. Dengan kata lain, setiap orang memiliki panggilan khusus untuk saling melengkapi.

Ada orang yang begitu berambisi harus serba sempurna. Hal itu bukan saja mustahil secara manusiawi, tetapi inilah keadilan hidup: bahwa kekurangan kita akan ditutupi oleh kelebihan orang lain dan sebaliknya juga. Karenanya, terimalah semuanya itu tanpa harus merasa sedih dan malang.

Coba bayangkan seandainya semua orang sudah sempurna. Kita tidak memerlukan orang lain lagi. Kalau semua orang sudah pintar, maka tidak perlu lagi seorang guru. Demikan juga kalau setiap orang sudah cantik, maka salon-salon kecantikan akan tutup. Begitu juga seandainya setiap orang bisa bernyanyi seindah malaikat, maka tidak dibutuhkan lagi artis dan biduan.

Bagaimana dengan diri anda? Sudahkah menemukan potensi dan kelebihan yang anda miliki? Seandainya anda menemukan kekurangan atau kelemahan, terimalah itu dengan hati yang bersyukur, sebab dengan demikian anda akan dilengkapi oleh orang lain serta memberi kesempatan bersama-sama untuk bertumbuh.

Itulah esensi panggilan: bahwa setiap orang terpanggil untuk saling melengkapi, saling mendukung, dan saling bertumbuh menuju kehidupam yang lebih baik.

ARTI “KAYA”

Arti “kaya” bagi banyak orang bisa saja berbeda-beda. Sama dengan cara orang memandang “sukses”. Apa kata seorang financial planner mengenai arti kaya? Freddy Pieloor, CFP dari http://www.moneynlove.com, berbagi pandangan

Saya percaya sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, manusia yang ingin hidup miskin dan sengsara. Semua menginginkan hidup kaya, bahagia, dan sejahtera. Namun kenyataannya, jumlah orang miskin jauh lebih banyak daripada orang kaya.

Apakah sulit menjadi orang kaya? Apakah perlu pendidikan yang tinggi hingga meraih gelar profesor? Atau mesti berkunjung ke dukun sakti meminta ajian atau resep kaya? Apakah kita tidak bisa menjadi kaya dengan cara halal dan harus melakukan korupsi serta tindak kejahatan seperti yang ditayangkan televisi?

Menjadi kaya memerlukan waktu dan proses, yang dikerjakan secara penuh disiplin dan komitmen tinggi. Tetapi, jangan pernah bermimpi menjadi kaya secara cepat atau instan, ya.

Menjadi kaya pun bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan sebuah titik yang akan terus bergerak. Misalnya, sekarang ukuran kaya bagi Anda adalah memiliki uang sebesar Rp 1 miliar. Begitu Anda sudah memiliki uang Rp 1 milyar tersebut, ukuran Anda akan meningkat lagi menjadi Rp 5 miliar atau bahkan lebih. Jadi, ukuran kekayaan Anda akan terus berubah seiring dengan pencapaian tersebut.

Kali ini saya akan membahas tema “Define your definition about rich”. Apa definisi Anda tentang kekayaan? Apakah memiliki rumah mewah ukuran 1.000 meter di Pondok Indah dan mobil Audi A8 keluaran terbaru sudah kaya? Atau harus memiliki uang tunai sebesar Rp 25 miliar? Atau Anda rasa memiliki rumah sederhana ukuran 200 meter di kota Ambarawa yang sejuk dan kebun yang tidak terlalu luas serta sedikit tabungan sebesar Rp 500 juta sudah Anda anggap kaya?

Saya yakin definisi Anda tidak akan sama dengan sahabat atau saudara Anda. Kaya sangat relatif dan rentang kekayaan seseorang sangat panjang, mungkin dimulai dengan Rp 100 juta hingga Rp 25 triliun. Mungkin biaya hidup Anda cukup dengan Rp 10 juta per bulan, tetapi bagi orang lain bisa jadi membutuhkan Rp 250 juta per bulan. Semua berpulang kembali kepada cara dan gaya hidup masing-masing.

Menurut Webster dan Oxford Dictionary, arti kaya adalah memiliki banyak harta atau properti, tetapi menurut Robert T Kiyosaki, kaya adalah memiliki passive income (pendapatan tanpa bekerja karena uang mereka yang bekerja) yang nilainya lebih besar daripada biaya hidup sehingga tanpa bekerja pun, seseorang atau sebuah keluarga dapat tetap menjalani kehidupan dengan standar yang sama (layak).

Jadi, sebelum Anda melangkah dan mencapai kekayaan, silakan mencari makna dan definisi kaya bagi diri Anda sendiri. Apa arti kaya bagi Anda? Apakah Anda sudah merasa kaya? Apa ukuran (dasar) kaya bagi Anda? Ingat, ukuran orang lain jangan Anda pakaikan pada diri Anda!

(moneynlove.com/Majalah Chic/Freddy Pieloor)

POHON YANG KEHILANGAN ROHNYA

Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitive ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.   Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah kita berteriak pada anak kita? Ayo cepat! Dasar leletan! Bego banget sih.. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan…  Ayo, jangan main-main disini. Berisik! Bising!  

Atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka membuat kita jengkel?

Kenapa sih makan aja berceceran?

Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu?

Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar?   

Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?

Atau, mungkin kitapun berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati?

Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?! 

Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa!

Aduh.. Perempuan kampungan banget sih?!

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya.

Eh tolol, soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?! Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya,  meskipun secara fisik mereka dekat tapi  sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik sebagai balasannya. Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita